Jumat, 14 Maret 2014

Seseorang yang Kutemukan dalam Hujan



Seseorang yang Kutemukan dalam Hujan

“Hujan sialan!” Aku merutuk kecil. Melepas jaketku dan mengibas-ngibaskannya karena basah. Mataku menangkap seseorang berdiri dengan canggung di bawah naungan atap halte bus itu. Rambut, bahu bajunya juga basah. Dia mungkin sama dengan aku, berhenti berjalan karena hujan turun tiba-tiba. Aku tak hendak berkenalan, meskipun dalam pikiranku menemukan beberapa nama seperti Sri, Ajeng, atau Galuh.
Tiba-tiba saja, ada pertanyaan yang menggoda untuk aku sampaikan padanya,”Kau juga membenci hujan?” Dia tersenyum dan mengangguk seolah mengiyakan. Hingga pertanyaan lain menggelincir begitu saja,”Kenapa?”
“Hujan memperlambat sebuah janji temu,” jawabnya cepat. Seolah hal itu adalah sebuah kesimpulan dari serangkaian cerita yang ingin dia sampaikan. Dalam pikiranku merangkai cerita sendiri. Gadis ini, entah Sri, Ajeng, atau Galuh namanya, sedang menuju sebuah tempat yang telah disepakati olehnya dan teman atau kekasihnya yang jaraknya tidak jauh dari sini sehingga dia berjalan kaki dan terpaksa dia hentikan karena hujan tiba-tiba datang.
“Sepertinya hujan akan membatalkan sebuah cerita.” Aku seperti dipaksa untuk bercerita karena jawabannya yang pendek tadi. Lalu aku mengatakan bahwa seharusnya malam ini aku berada di suatu perhelatan sastra di mana aku akan menjadi moderator dalam diskusi buku kumpulan cerpen berjudul “Gerimis Anjing.”
“Gerimis Anjing?” Tanyanya dengan alis terangkat. Pastinya dia terkejut dengan judul buku kumpulan cerpen itu tadi.
“Ya. Gerimis Anjing. Sebuah buku kumpulan cerpen karya seseorang yang tidak perlu disebut-sebut. Karena dia tidaklah setenar Kurnia Effendi atau Triyanto Triwikromo, penulis-penulis cerpen yang karyanya bisa dengan mudah kita temukan setiap minggu di surat kabar.”
Dia hanya tersenyum. Aku tahu dari ekspresinya, dia tidak tahu apa yang kubicarakan.
“Maaf, aku terlalu banyak mengoceh.”
“Tak apa.”  Lagi-lagi jawabnya lebih singkat dari gemuruh di langit setelah kilat menyambar.
Aku mengeluarkan telepon genggam dari saku celana.
“Tak baik menelepon saat hujan lebat,” katanya mencegah. Sepertinya dia tahu apa yang akan aku lakukan.
“Kenapa?”
“Telepon genggam memancarkan gelombang elektromagnetik yang bisa menarik energi lainnya seperti listrik. Bisa-bisa kamu tersambar petir, nanti.”
“Itu ilmiah? Bisa dipertanggungjawabkan?” Tanyaku sambil memasukkan kembali telepon genggamku dengan ragu ke saku celana. “Bagaimana dengan mengirim pesan pendek? Apakah bisa tersambar petir juga?”
Dia mengangkat bahu. Aku rasa dia tidak paham juga dengan apa yang barusan diucapkannya kepadaku. Atau informasi yang dia terima masih sepotong-sepotong.
“Aku ingin memberitahukan bahwa aku tidak bisa datang tepat waktu,” kataku.
Dia menunjuk sebuah taksi yang kelihatan melaju di kejauhan. “Kau bisa naik taksi.”
“Lalu bagaimana dengan kamu?” Tanyaku.
“Aku akan menunggu hujan reda saja. Tempat janji temuku tak jauh dari sini.”
Aku terdiam. Menghitung dalam hati berapa sisa uang di dompetku. Apakah uang itu cukup untuk ongkos taksi menuju tempat perhelatan sastra di daerah Bulungan itu atau tidak. Sebenarnya aku berniat untuk jalan kaki ke arah perempatan lalu dari sana aku akan naik metromini ke arah Bulungan. Cukup dengan uang dua ribu rupiah. Kalau aku memutuskan naik taksi, bisa keluar ongkos tak kurang dari dua puluh ribu. Apalagi hujan begini, jalanan pasti macet.
“Ah. Aku rasa telat sedikit tak mengapa.”
“Apakah aku harus merasa keberatan dengan hal itu?” Tanyanya.
Ya. Halte ini tempat siapa saja menunggu angkutan umum. Siapa saja bisa bernaung menghindari hujan di sini. Termasuk aku, dan Sri, atau Ajeng, atau Galuh ini. Entahlah siapa namanya. Aku tak hendak berkenalan dengannya. Bukan lantaran menurutku dia tidak cantik atau terlalu kurus, atau karena apa pun. Aku memang tidak sedang ingin berkenalan dengan seseorang. Siapapun dia.
“Apakah kau juga membenci hujan?” Dia tiba-tiba menanyakan yang tadi kutanyakan kepadanya.
Aku berusaha mengingat dengan baik larik-larik sajak Sapardi, atau siapa saja tentang hujan. Tapi tak ada yang kuingat selain sebuah peristiwa tentang seseorang yang menangis. Dengan seorang bayi yang diselimuti dan didekap erat, dia menenteng sebuah koper besar. Tepatnya menyeret koper itu. Sebuah rumah besar berwarna putih terlihat terang ketika petir menyambar. Suara seorang pria berkumis bercampur dengan bunyi guruh. Entah apa yang dia katakan. Tapi yang jelas membuat perempuan dengan bayi di gendongannya itu semakin deras airmatanya.

Rasanya sejak itu, aku membenci apapun yang berkaitan dengan hujan. Termasuk seseorang yang kutemukan dalam hujan. Seperti Sri, Ajeng, atau Galuh yang sedang menunggu hujan reda di dalam halte bus ini.
Tiba-tiba kulihat awan gelap seperti menyisih. Hujan berubah jadi gerimis yang tidak kencang. Segerombolan burung terbang dari pepohonan. Aku memakai kembali jaketku.
“Hujan hampir reda. Aku pergi dulu ya.” Kataku dengan nada yang kuinginkan keluar dari bibirku begitu sopan. Seperti seorang anak pamit bermain kepada ibunya.

Hari Ulang Tahun Seseorang



Hari Ulang Tahun Seseorang

Hari ini, aku berada di kebun belakang sebuah rumah mewah. Mungkin karena tergesa, atau sisa mabuk semalam, aku tak ingat mengapa pada siang hari seperti ini aku sudah duduk dengan kikuk pada bangku lipat berwarna merah tua. Sepasang kakiku mengenakan sepatu kulit cokelat muda, dan celana hampir senada. Di atas kemeja putih yang kupakai, seseorang atau mungkin aku yang tak sadar tadi pagi, terdapat sweater yang didominasi warna putih tetapi dengan motif kotak-kotak cokelat tua. Seperti sweater yang dulu pernah dihadiahkan untukku dari seseorang teman yang habis jalan-jalan ke luar negeri. Entah Eropa atau Amerika. Rasanya aku mulai susah sekali mengingat segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku. Jangankan yang dulu-dulu, siang ini juga aku tak mengerti mengapa aku berada di kebun belakang sambil duduk dengan kikuk pada bangku lipat merah tua.
Dalam kebingungan, aku mencoba memraktikkan apa yang disebut sebagai ilmu pengamatan lingkungan. Aku melihat ke segala arah, apa yang ada di sana, apa yang tengah terjadi, dan beberapa orang yang lalu lalang di kebun belakang ini. Perlahan aku mulai mengerti bahwa di kebun belakang ini tengah disiapkan sebuah pesta. Di beberapa bagian kebun telah ditata makanan di atas meja-meja panjang. Pada bagian belakang ada beberapa lampu dan pengeras suara. Di dekat kolam renang, ada sebuah panggung kecil dengan latar belakang papan yang dihiasi dengan gambar-gambar dan juga tulisan “Selamat Ulang Tahun” yang menandakan bahwa pesta di kebun belakang ini adalah pesta ulang tahun. Jadi, aku berada di sini sebagai tamu undangan pesta ulang tahun seseorang. Pertanyaannya, siapakah yang berulang tahun itu, apakah dia punya hubungan denganku, atau yang paling penting adalah siapa yang telah membawaku ke sini? Semua pertanyaan itu harus segera dijawab sebelum tempat ini mulai ramai. Paling tidak agar aku bisa menyesuaikan diri dan membaur dengan para tamu undangan lainnya.
Mungkin, seseorang dari tamu itu akan menanyakan pertanyaan yang sama dengan pertanyaanku tadi. Semisal apa hubunganku dengan orang yang berulangtahun. Atau bisa lebih detail lagi seperti menanyakan kapan pertama kali berjumpa atau dalam kesempatan apa aku pernah bertemu dengan dia. Ini yang harus segera aku temukan jawabannya. Maka aku putuskan untuk bangkit dari dudukku. Yang kutuju adalah bagian belakang rumah di seberang kolam renang yang tengah ditebari bola berwarna-warni. Mungkin supaya kelihatan semakin semarak pesta kebun itu. Belum lama aku berjalan, seseorang segera menggamit lenganku.
“Mau ke mana, Pak?”
Aku segera menoleh padanya, seorang perempuan dengan senyum yang manis. Rambutnya hitam legam dan wangi. Matanya mengingatkan aku pada seseorang yang sudah lama sekali berada dalam pikiranku.
“Ranti?”
Tiba-tiba saja aku bisa mengingat nama seseorang yang baru saja berkelebat dalam benakku setelah aku melihat matanya.
“Bukan, Pak. Aku Dewi, putrinya.”
Putrinya? Kenapa selama ini dia tidak pernah bercerita jika sudah punya anak? Dia menikah dengan siapa? Dalam hati aku merutuk karena di siang hari yang tidak terik dan dipenuhi beraneka warna di kebun belakang ini aku justru dibekap dengan beragam pertanyaan yang memintaku untuk bisa segera mendapatkan jawabannya.
Setelah mengatur nafas, aku memberi isyarat padanya untuk ikut bersamaku kembali ke jajaran bangku lipat merah tua itu. Dia mengangguk dan seperti seorang anak yang baik, dia menggamit lenganku dan membimbingku ke sana.
“Kalau boleh aku tahu, siapa yang membawaku ke mari?” Ini sebenarnya bukan pertanyaan pertama yang harus aku temukan jawabannya dari deretan pertanyaan yang aku punya, tapi ini akan memberiku banyak lubang cahaya pada kegelapan yang menyelimuti pikiranku.
Namun aku heran, mengapa dia tersenyum mendengar pertanyaanku itu. Sepertinya pertanyaanku adalah sebuah lelucon.
“Bapak. Tadi pagi, bapak itu bangun sangat pagi. Lalu mandi dan berpakaian rapi. Dan karena Bapak bilang bahwa hari ini Bapak harus menghadiri pesta ulang tahun Ibu, maka Bapak sama Mas Sasongko, dibawa ke sini.”
“Sebentar. Sebentar. Ibu siapa yang berulangtahun?” Itu pertanyaan pertama dalam daftar pertanyaanku, hanya sudah diberi panduan bahwa yang berulangtahun itu adalah seorang perempuan. Yang disebut Ibu olehnya.
“Ibu Miranti. Ibu saya.”
Miranti? Nah, kebetulan! Aku bisa tanyakan padanya sekarang apa hubunganku dengan yang berulangtahun itu. Lalu di mana dia?
“Ibu sudah lama meninggal. Lima tahun yang lalu. Bapak lupa? Ah. Pasti Bapak mulai pikun.” Dia bercerita dengan datar, tadinya, tapi lama-lama mukanya berubah ceria. Lalu dia berkata lagi, “Bapak tahu, Mas Sasongko sering bilang pada saya, bahwa dia ingin sekali seperti Bapak. Meskipun Ibu sudah lama meninggal, cinta Bapak terhadap Ibu tetap menyala. Buktinya, sepanjang lima tahun ini, Bapak tidak pernah putus menggelar perayaan ulang tahun Ibu!”
Jadi? Miranti adalah istriku dan Dewi yang tengah berbicara padaku adalah anakku? Mengapa aku bisa lupa semua ini dalam waktu semalam saja? Apa yang terjadi semalam denganku? Lagi. Semakin banyak pertanyaan masuk ke dalam pikiranku. Tapi aku tak mau seperti tadi, berusaha mencari jawabannya dengan segera. Aku memutuskan untuk tidak merusak hari ulang tahun seseorang dengan membuka rahasia bahwa aku sudah mulai lupa pada segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku. Aku kembali memraktikkan ilmu pengamatan lingkungan dengan memandang panggung kecil di seberang kolam renang. Tapi cahaya matahari yang memantul dari permukaan air membuat mataku terasa sangat silau, dan tiba-tiba membuat air mataku jatuh.
Dewi segera mengeluarkan tisu dari tasnya lalu mengusap pipi dan kelopak mataku, sambil berujar, ”Ibu pasti bahagia di sana melihat Bapak masih mencintainya dengan sangat.”
Lagi-lagi dia tersenyum memandangku.

Dunia di Kepala Kakek



Dunia di Kepala Kakek

Kakek pernah bercerita bahwa dunia diletakkan di atas seekor mahluk serupa kura-kura. “Tapi,”tegasnya kakek lagi,”Jangan pernah membayangkan dia seperti kura-kura biasa. Dia bertaring panjang seperti seekor singa laut, kaki-kakinya sangat mirip dengan kaki burung, karena itu dunia bergerak dengan cepat. Siang berganti malam hanya dalam hitungan bukan hari, minggu, atau bulan.”
Aku mengingat sebuah gambar tua. Seorang lelaki bernama Atlas memanggul bola dunia di atas bahunya yang kekar.  Pernyataan kakek ingin aku tentang berdasarkan gambaran yang terlintas di kepalaku itu. Tapi dia adalah kakekku. Tak seorang pun bisa membantah perkataannya. Dia bekas tentara. Sering sekali dia menceritakan bagaimana suasana di medan perang kemerdekaan. Tentu saja dengan gaya bicara yang berapi-api agar kami yang terpaksa mendengarkan (karena kakek sudah sering menceritakannya) turut merasakan semangat tempurnya ketika menembaki musuh.
“Kau tahu, di ekor mahluk yang seperti kura-kura itu, ada wajah yang sangat sayu.” Tambahnya lagi. “Wajah?” Aku heran mendengarnya, dan kepadanya aku tanyakan, “Apakah berarti mahluk itu punya dua kepala atau dua muka?” Kakek tertawa terkekeh. “Bukan. Bukan seperti itu. Itu hanya gambaran imajinatif tentang kenangan. Wajah itu milik seorang dewi. Tepatnya Dewi Kesuburan. Karena dunia ini dimulai dengan kesuburan pepohonan dan tetumbuhan.”
Aku masih tidak paham, bagaimana mungkin wajah seorang dewi berada pada ekor mahluk seperti kura-kura itu, tapi aku malas untuk mendebat ucapan kakekku. Kepalaku manggut-manggut saja seolah mengerti perkataannya. Mata kakek menatap tajam kepadaku. “Kau pasti tidak mengerti apa yang aku katakan, bukan?”
“Baiklah, akan aku ceritakan bagaimana sebenarnya kejadiannya. Ketika Tuhan telah menciptakan dunia ini. Tuhan ingin semuanya teratur dan dalam pengawasannya. Maka dipanggillah mahluk-mahluk yang telah diciptakan sebelum tumbuhan, hewan, dan manusia. Mahluk yang berukuran sangat besar dan tinggal dalam kegelapan luar angkasa. Tentu saja tak seorang pun bisa melihatnya karena mereka tersembunyi dan juga tak kasat mata. Dan datanglah mereka, ada empat mahluk yang mendengar permintaan Tuhan, dua mahluk yang mirip manusia, tetapi punya sifat yang bertolak belakang. Yang satu suka dengan kegembiraan, di pundaknya ada binatang mirip singa tetapi selalu tertawa. Yang satu lagi sangat suka dengan kekerasan, kekejaman, dan kemarahan. Di dekat dadanya ada seekor binatang mirip seekor naga. Ketika Tuhan meminta salah satu dari mereka untuk membawa dunia ini, mereka segera berulah. Yang membawa singa tertawa terbahak-bahak dan mengatakan permintaan Tuhan itu sangat mustahil dilakukan. Yang membawa naga bersungut-sungut dan mengatakan permintaan Tuhan itu lebih berat dari tugasnya yang menghasut manusia untuk berbuat jahat.”
“Aku tahu satu mahluk lainnya adalah kura-kura itu. Benar ‘kan, Kek?” Aku memotong pembicaraan kakek agar ceritanya tentang dunia yang diangkut kura-kura ini segera berakhir. Lagi-lagi kakek menatapku tajam. Rupanya dia tidak senang disela begitu rupa.
“Kalau kau tak mau mendengarkan. Baiklah. Pergilah kau bermain!” Tukasnya.
Mendengar nada bicaranya yang meninggi, aku tentu saja tidak ingin mengecewakannya. Lagi pula, malam-malam begini, mana mungkin aku pergi ke luar rumah dan bermain-main? Maka kupasang tampang memelas agar Kakek mau melanjutkan ceritanya ini.
“Satu mahluk lainnya adalah seperti seorang perempuan. Dia berambut panjang dan suka sekali bersolek. Sepasang kakinya mirip dengan kaki naga yang ada di pundak Kemarahan. Dan yang paling mencengangkan adalah payudaranya yang jumlahnya sampai puluhan. Mahluk itulah yang banyak dikatakan orang sebagai Ibu Bumi. Dia tidak menyanggupi permintaan Tuhan karena tubuhnya lebih kecil dari yang lain. Lagipula, jika dia memanggul dunia ini, tentu tak ada waktu baginya untuk bersolek dan melihat wajahnya pada sebuah cermin yang selalu ada di tangannya.”
Sampai di sini, kakek kembali melihat padaku. Memperhatikan apakah aku kembali bosan mendengarkannya bercerita atau malah bersemangat. Nampaknya, aku mulai dirasuki imajinasi dalam cerita kakek. Aku menikmati apa yang digambarkan olehnya dalam cerita itu. Yang tak terbayang olehku adalah dari mana kakek mendapatkan cerita semacam ini. Cerita yang tak pernah kubaca di kitab-kitab suci. Melihat aku mulai tenang, kakek pun melanjutkan ceritanya,”Tinggallah mahluk yang seperti kura-kura itu. Melihat punggungnya yang kuat dan keras, Tuhan tanpa berkata lagi meletakkan dunia di atas punggung mahluk itu.”
“Jadi, begitu saja ceritanya?”
Aku memberanikan diri bertanya kembali karena kakek terdiam seolah cerita yang ingin disampaikannya sudah selesai.
“Ceritanya justru baru dimulai. Karena dunia diletakkan di atas punggung mahluk seperti kura-kura itu, maka terjadilah keributan dari tiga mahluk yang tadinya tidak mau membawa dunia itu. Mereka ternyata minta bagian dari tugas yang diberikan Tuhan. Akhirnya, Tuhan memberikan mereka tugas. Kegembiraan diminta memandu jalannya mahluk kura-kura,
Kemarahan berjaga di belakang, agar dunia tidak oleng atau jatuh dari punggung mahluk kura-kura itu. Dan Ibu Bumi bertengger di ada dunia ini mengawasi jalannya dunia ini. Karena itu dalam hidup kita kita harus selalu mengutamakan kegembiraan dalam menjalani hari-hari. Kita boleh marah terhadap diri kita jika kita gagal. Dan kita harus selalu menjaga hidup kita agar segalanya bertumbuh, berbuah, dan berkembang. Bertumbuh cita-cita kita, berbuah segala apa yang kita perbuat, dan indah dilihat semua orang. Juga, kita harus selalu hati-hati dan waspada. Berjalan dengan penuh perhitungan, dan bisa menyiasati bahaya seperti kura-kura masuk dalam tempurungnya, dan tetaplah mengenangkan hal-hal yang subur. Hal-hal yang membuat kita selalu berpikiran positif.”
Kali ini aku manggut-manggut karena mengerti. Ternyata apa yang diceritakan kakek adalah sebuah nasehat yang sangat berharga meskipun dibungkus dengan cerita yang sangat aneh bagiku. Seulas senyum terkembang di bibirku. Cerita yang aneh tetapi punya pesan cerita yang bagus.
“Bagaimana dengan manusia, Kek? Apakah Kakek punya cerita tentang asal muasal manusia?” Aku penasaran.
“Hahaha. Kau tahu bahwa manusia turun ke dunia ini karena dikutuk, bukan? Baiklah aku ceritakan bahwa ketika manusia diturunkan ke dunia itu, dia terjun bebas sehingga mendarat di dunia ini dengan kepala di bawah dan kaki di atas.”
“Ha? Bagaimana bisa, Kek?”
“Tuhan sengaja membuatnya demikian. Agar manusia tidak sombong kepadaNya. Terlebih, agar manusia tahu bahwa jika dalam keadaan terjungkir seperti itu, maka dia merasa batas dari dirinya dan segala kenikmatan yang bisa diraihnya adalah kematian.”